Peran Orangtua Mendampingi Anak

Pentingnya Peran Orangtua Mendampingi

Anak Memasuki Masa Pubertas

Anak  terlahir dengan segala anugrah menyertainya, termasuk salah satunya adalah memasuki masa pubertas. Keterbatasan kemampuan dalam dirinya mendorong mereka mencari jawaban dengan caranya sendiri. Oleh karena itu pendampingan dalam memasuki masa pubertas sangat dibutuhkan.

Jam 06.30 sudah…” Bu… Oky lama sekali di kamar madi…” Oka kakaknya Oky memberitahu Ibu yang sedang memasak untuk sarapan pagi. “Ya biarkan dulu nanti kan juga selesai mandinya…” jawab Ibu singkat. “ Ini sudah siang… nanti terlambat sekolahnya…!” Oka menimpali jawaban Ibu.

Akhirnya Ibu menghampiri kamar mandi…” Oky… ini sudah siang.. mau sekolah apa tidak…? “ Ibu mengingatkan Oky yang masih duduk di bangku SMP.  Baru saja hendak beranjak menjauh dari  kamar mandi terdengar Oky membuka pintu maka Ibu bergegas melanjutkan aktifitas memasaknya.

Sehabis mandi  dan memakai seragam, Oky  datang menghampiri Ibu.  “Bu, ada yang mau Oky sampaikan.” Karena sudah siang “ Nanti saja setelah pulang sekolah, ini sudah siang nanti terlambat…” Ibunya menjawab. Oky  mengangguk paham maksud Ibu.  Oky mengambil sarapan sambil tertunduk tidak memandang Ibunya. Ibu agak heran melihat Oky  tidak seperti biasanya.

“Oky…  duduk di sini saja”. Ibunyapun menyuruh duduk berdampingan saat makan pagi. Ibu rupanya penasaran ingin mengetahui penyebab perubahan sikap anaknya. Tidak seperti ini di hari-hari sebelumnya.

“Mau ceritera apa, tumben..  penting sekali apa?”  Ibu bertanya dengan suara lembut…Eee….. hening sejenak, kemudian dengan suara pelan dan tampak sedikit ragu Oky  berkata,” Iam sorry mam, I had my first wet dream last night.” Mendengar ini Nampak Ibunya  sedikit terkejut. “What, really?” Ibunya bertanya dalam keterkejutannya. Oky pun hanya menjawab dengan  anggukkan kepala. “Kalau begitu, selamat ya nak… ” Pantas saja tadi pagi dia mandi lebih lama dari biasanya,  Ibu memecah suasana. Oky menunjukan wajah gembira dan sesekali terlihat senyum-senyum terkulum. Berhubung dia harus segera berangkat ke sekolah, Ibunyapun tidak melanjutkan pembicaraan di pagi ini.

Oky saat ini telah berusia 14 tahun, perkembangan fisiknya tidak mengalami gangguan. Jadi kematangan seksualnya juga bagus. Termasuk masa-masa pubertasnya. Memang beberapa waktu lalu ketika sebuah jerawat kecil bersemi di wajahnya, suaranya sedikit serak Ibunya  sudah pernah menanyakan dan membahas hal ini. Sambil mengingatkan bila waktunya tiba, jangan lupa memberitahukannya kepada saya. Tapi tetap saja Ibunya  masih belum percaya megetahui hal ini namun Ibunya juga sadar mengingat usianya telah memasuki usia 14 tahun, tentunya itu merupakan hal yang wajar.

Sepulang sekolah setelah suasana memungkinkan, kembali suasana familier tercipta berkat kemampuannya,  Ibunya Oky memahami, betapa pentingnya mendampingi anaknya yang memasuki masa pubertas. “Mimpinya bagaimana?” Ibunya  bertanya dengan nada sedikit menggoda. “Yaa mimpi orang dewasalah..”, jawabnya dengan wajah tertunduk malu-malu. Ibunya menggoda lagi “ Berarti anak Ibu  sekarang sudah gede dong” . Oky pun menjawab         “ Hehehe, kan baru mau Bu…” Kali ini dia sudah bisa berkata sambil mengarahkan pandangannya ke arah Ibunya.

Sebagai seorang muslim Ibu bermaksud membantu Oky . “Sudah mandi junub belum, tahu caranya tidak?” tanya Ibu kemudian. “Sudah Bu, kan di sekolah sudah diajarkan.” Oky menjawab dengan rileksnya. “Oh, baguslah kalau begitu”. Agar lebih rileks, Ibunyapun mengambil posisi tiduran sambil bercerita dengannya. “Kalau pacar sudah ada?” Pertanyaan konyol ini ditanyakan padanya. Sambil tertawa Oky  menjawab, “Hahaha, mama ada-ada saja!.. Siapa yang mau pacaran denganku?”. Mendengar jawaban Oky, Ibunya sadar terus buru-buru berucap “Ah jangan minder begitu, Tuhan memberikan anugrah yang sama kepada umatnya. Tapi bagus kalau belum pacaran. Sekolah yang rajin saja dulu itu jauh lebih penting, oke?” Dengan mimik muka dan nada bicara seperti yang Ibunya tampilkan tadi, dia menjawab, “oke deh Bu…” .

Berbekal pengetahuan dan komunikasinya dengan Bu guru di SMP tempatnya Oky sekolah, nampaknya banyak hal yang mereka bahas berdua. Mulai dari kegiatan di sekolah, pelajaran-pelajaran atau guru-guru yang disenangi maupun sebaliknya. Teman-teman yang dekat dengannya, termasuk perilaku keseharian mereka. Sampai akhirnya merekapun membahas tentang situs-situs dewasa di berbagai media, sekaligus memancing untuk mengetahui tentang pendapatnya mengenai hal tersebut, juga apakah dia sudah pernah mengaksesnya.

Ibunya Oky nampak  tak percaya ketika mendengar pengakuan anaknya  bahwa baru-baru ini dia sudah pernah melihat salah satu situs dewasa di internet. Ibunyapun bertanya kepada Oky.. “  mengapa hal itu Oky lakukan..?” Oky dengan sedikit grogi menjawab “ he he he  karena ketidaksengajaan saat hendak mendownload game ada tulisan: Mau lihat cewek cantik dan seksi, klik di sini. Dan ketika diklik tampaklah gambar-gambar vulgar Bu…!”. Mengetahui hal ini, tidak serta merta membuat Ibunya  langsung memarahinya. Justru terlihat Ibunya  sangat menghargai kejujuran dan keterbukaannya yang mau berbagi cerita tentang pengalamannya ini.

Fase transisi dari anak-anak menuju remaja bagi anak  adalah sangat rentan terhadap perkembangan mental anak. Oleh karena itu  komunikasi yang baik dari orangtua sangatlah penting. Jangan sampai timbul kesalahpahaman hingga menyebabkan jarak diantara keduanya.  Untuk itu cara menasehati, mengarahkan mereka sebaiknya menggunakan metode yang sederhana namun tepat sasaran sesuai kondisi anak. Sebagi contoh sederhana : menasehati atau melarang anak agar tidak melakukan sesuatu harus logis, sehingga anak tidak mencari sendiri alasan larangan itu.  Melarang anak  harus ditunjukan bahwa kita tidak melakukan perbuatan yang dilarang tersebut. Karena anak  cenderung memahami apa yang dilihat sebagai hal yang diijinkan. Jadi hindarilah  kata-kata jangan, tidak boleh, apalagi kata-kata ancaman, awas kalau berani ….!

Konsep seperti itulah yang idealnya diterapkan kepada anak . Lebih menjelaskan dari sisi bahaya dan dampak buruknya, daripada menghakimi, memarahai, mengekang  yang justru malah dapat membuat anak berontak suatu saat nanti. Berikanlah kepercayaan yang bertanggung jawabsehingga  membuat anak lebih dihargai dan juga membuat mereka percaya bahwa kita adalah orang yang tepat dan nyaman diajak berdiskusi, curhat dan lainnya.

Di masa pubertas, dimana seseorang remaja mulai mengalami rasa ketertarikan terhadap lawan jenis, rasa penasaran, keingintahuan akan hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas adalah hal yang lumrah. Di sinilah peran penting orangtua untuk mengarahkan, memberi penjelasan & pengertian yang benar dan terarah kepada anak mengenai sex education  dan kesehatan reproduksi. Harapannya agar mereka tidak terjerumus pergaulan bebas yang salah kaprah.

Memang sudah menjadi rahasia umum, situs-situs dewasa sangat mudah ditemui seiring perkembangan teknologi sekarang ini. Apalagi si Oky  bersekolah di SMP yang didukung ITC dalam pembelajarannya  yang sebagian besar tambahan materi pelajaran sekolah atau presentasi tugas kelompok didapatkan melalui internet.

Maka dari itu,  pendidikan spiritual dan bimbingan di lingkungan keluarga sangat penting. Harus dimulai oleh kedua orangtua yang memberi contoh. Jangan hanya menyuruh, namun kita sendiri melalaikan kewajiban-kewajiban kita. Dengan keimanan, insyaallah anak akan lebih dapat mengontrol diri dengan baik, terhindar dari hal-hal buruk yang kita khawatirkan. Ingatkan selalu bahwa sekalipun tidak ada yang melihat apa yang kita kerjakan, namun Dia Maha Mengetahui segalanya.

Wassalam!

Aditia , 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s